Rabu, 01 April 2009

Jangan Pandang Sebelah Mata

Mazmur 14:2 TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.


Ketika Allah melihat manusia, Dia tidak ha­nya melihat dari sisi yang tampak oleh mata. Yakni hal-hal yang bersifat lahiriah belaka. Tetapi ada hal lain yang menjadi sorotan/perhatianNya.

Perhatikan kata: “Apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah?”

Pandangan Allah adalah pandangan Ilahi. Yang tidak hanya bertumpu apa yang dilihat oleh mata. Tidak hanya berfokus pada hal-hal lahiriah. Sebab hal-hal yang lahiriah acapkali menjebak dan kebanyakan bersifat semu.

Ingatkah kita dengan peristiwa Perempuan yang Berzinah? Baca: Yohanes 8:2-11.

Ada sisi lain yang bisa tertangkap oleh Mata Tuhan, ketika Dia melihat sosok manusia secara utuh. Bukan hanya secara fisik, tetapi ada bagian lain yang patut untuk dilihat dan diperhatikan.

Orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah (Roma 8:14). Sebagai Anak Allah sebenarnya kita juga diberikan mata untuk bi­sa melihat secara tiga dimensi, yakni melihat se­buah benda dengan kedalamannya, serta apa yang terkandung di dalamnya. Tidak ha­nya satu dimensi saja!

Demikian pun setiap orang dan bidang usaha juga memiliki cara pandang yang beragam dan berbeda:

1. Dalam dunia Pemasaran/Perusahaan

Dengan berkembangnya personalized mar­keting, sudut pandang pemasaran tidak seka­dar menjual produk belaka. Melainkan juga men­ju­al jasa. Dalam hal ini tidak bias dilepaskan dengan pema­haman seorang penjual terhadap kebutuhan pemakai jasa. Sehingga tidak hanya melihat dari sisi fisik pembeli saja terjebak dalam pandangan sendiri.

Maka melihat pembeli/customer dari sisi luar, wah, keren, sehingga memberikan apresiasi yang berbeda dengan pembeli yang lusuh lalu dicuekin, sungguh merupakan keadaan yang sesegera mungkin harus ditinggalkan.

Ada sebuah kisah yang sangat popular; The Red Bag Lady. Seorang perempuan tua dengan dandanan lusuh, bau, dan sangat tidak menarik, yang kemana-mana senantiasa menenteng tas merah. Suatu saat masuk butik yang sangat terkenal, mewah, dan eksklusif. Dalam langkah nenek tua ini diawasi sepasang mata, yang tidak lain adalah seorang pendeta. Yang merasa kuatir, jangan-jangan nenek tua ini akan mengalami perlakuan yang kurang menyenangkan.

Ketika sampai di sebuah counter, nenek ini disambut dengan sangat ramah oleh pelayan toko. Dengan sabar pelayan toko ini melayani sang nenek, meskipun harus melewati kejengkelan demi kejengkelan. Sebab nenek tua ini berusaha untuk mencoba berulang kali gaun-gaun mewah yang mahal. Apakah dia membeli? Ternyata tidak. Nenek tua ini meninggalkan dengan cuek pelayan toko. Meskipun toh demikian, pelayan toko tetap mengantar sampai ke luar toko dengan ramah.

Merasa terheran-heran, pendeta yang sedari tadi mengikuti dari belakang mencoba untuk bertanya: “Kenapa Anda melayani dengan begitu sabar, ramah, dan apresiatif?” jawab pelayan toko: “Siapa pun orang yang masuk ke toko ini adalah konsumen kami, yang harus kali layani dengan sangat baik, tanpa melihat apa yang terlihat dari luar”.

Esok paginya, sang pendeta ketika berkhotbah di gerejanya, disampaikanlah kisah ini. Apa yang terjadi setelah khotbah minggu itu? Yang berkunjung dan menjadi pembeli serta pelanggan toko mewah tersebut melonjak luar biasa!

2. Dalam Dunia Kerja

Staf yang sederhana, pendiam, tidak banyak omong, seringkali dipandang sebelah mata/tidak dianggap, dibandingkan dengan staf yang banyak omong. Lalu kita tidak bias menampik standar yang seringkali banyak dipakai yakni ukuran fi­sik: cantik, cerdas, mewah, keren, berijazah, dll.

Tahukah kita bagaimana Arrow pada suatu era tertentu pernah menjadi top leader perusahaan kemeja tingkat dunia? Se­luruh karyawan mempunyai pandangan yang ta­jam tentang peluang dan keunggulan produknya, yang ke­mudian dijadikan bagian dalam gaya hidup mereka. Seluruh staf – mulai dari yang tingkat bawah sampai top leader – mengenakan kemeja Arrow dan selalu menyampaikan keunggulan produk kepada siapa pun yang dijumpai.

Rasul Paulus pernah menegur jemaat di Roma tentang bagaimana memandang seseorang (Ro­ma 2:3). Seringkali dengan enteng menghakimi dan mencela orang lain, padahal kita sendiri pun melakukan hal itu. Bandingkan dengan Lukas 6:41.

Kenapa hal ini juga menjadi peringatan bagi kita? Ketika kita salah dalam memandang sesuatu, maka akan membawa akibat:

1. Salah mengambil kesimpulan/keputusan

Ingat peristiwa pemilihan Nabi Samuel terha­dap calon raja Israel (1 Samuel 16:6-7)? Kalau Nabi Samuel memandang fisik dari para calon raja yang ada di depannya, maka bisa dipas­tikan dia akan salah dalam meng­ambil keputusan. Sebab yang dicari Tuhan bukan parasnya, tetapi hatinya.

2. Membuka peluang mendatangkan dosa

Ketika kita menilai seseorang dari sisi fisik, tan­pa memperhatikan hal-hal lain dari kacamata yang berbeda maka kita akan salah mengambil kesimpulan yang pada gilirannya akan mengecewakan orang lain. Hal ini akan mendatangkan dosa di dalam hidup kita.

Di dalam Matius 6:22-23 Mata adalah pelita tubuh. Jika matamu terang, maka teranglah tubuh­mu.

Tidak heran kemudian, manusia menuliskan teorinya: berpikir positif. Tetapi tidak hanya berpikir positif, hati dan roh pun harus positif dan harus bertindak po­sitif. Tidak asal melakukan. Tetapi senantiasa berupaya melakukan sesuatu dengan upaya agar semakin menjadi lebih baik/meningkat.

Jepang menjadi negara yang luar biasa, kare­na punya sudut pandang yang luar biasa. Memasuki abad 19, ketika mereka mencoba meniru produk Amerika, dunia mengejek dan memandang Jepang dengan se­belah mata. Tetapi rupanya Jepang tidak hanya meniru tetapi Jepang juga beru­saha untuk mengembangkan diri

Ketika Tuhan memberikan mata kepada kita, bersamaan dengan itu Dia juga mengaruniakan hati dan roh. Sebab apa yang ada di mata lalu kemudian hanya diolah oleh indera penglihatan itu sendiri, maka yang didapat adalah keadaan-keadaan fisik belaka. Tetapi kalau melihat dari hati, maka tidak hanya fisik yang bisa kita tangkap.

Oleh sebab itu perlu pembaharuan budi (Roma 12:2). Memiliki cara pandang yang diubahkan. Tidak seperti orang dunia memandang. Berikutnya pembaharuan budi. Suatu upaya melakukan pembaharuan hati. Agar hati ini selalu bersih (Amsal 27:19). Sebab dari hati yang bersih memandang sesuatu itu dengan bersih.

Pergunakan mata kita dengan arif dan bijak­sana. Pengkhotbah 2:14 Mata orang berhik­mat ada di kepalanya. Ingat, cara pandang seseorang ter­hadap orang lain mencerminkan bagaimana kea­daan orang tersebut.

Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Tidak ada komentar: